Drama Penyelamatan Nyawa Di Ketinggian 11.887 Meter

Oleh: Chappy Hakim

Pada Minggu 16 Oktober 2016, Kompas.com menurunkan berita dengan judul “Penumpang Meninggal di Pesawat, Pilot Garuda Diduga Salahi Prosedur”. Berita ini pun langsung mendapatkan penjelasan yang gamblang dari pihak Garuda.  

Bantahan tersebut dimuat pada hari yang sama oleh Kompas.com yang berisi antara lain sebagai berikut:

Garuda Indonesia membantah pilot dalam penerbangan bernomor GA 716 rute Jakarta – Melbourne pada Jumat (14/6/2016), menyalahi prosedur standar operasional (SOP) lantaran tidak melakukan pendaratan ke bandara terdekat ketika ada penumpangnya yang sakit.

Vice President Corporate Communications Garuda Indonesia Benny S Butarbutar mengatakan, menyelamatkan seseorang yang kritis merupakan tugas sekaligus panggilan bagi siapa pun, termasuk pilot.

“Tidak benar bahwa Garuda Indonesia mengabaikan pendaratan darurat untuk menyelamatkan penumpangnya yang sedang mengalami kondisi kritis di pesawat/dalam penerbangan Jakarta-Melbourne… namun karena kondisinya sudah sangat kritis dan berpulang dengan cepat,” kata Benny melalui pesan tertulisnya, Minggu (16/10/2016).

Tanpa bermaksud untuk membenarkan atau lebih-lebih menyalahkan siapa pun, setelah membaca berita tersebut, hati saya terdorong untuk ingin sekadar berbagi sebuah kisah nyata yang pernah saya alami sendiri.  

Kebetulan pada tahun 2009 saya pernah melihat bagaimana drama penyelamatan nyawa seorang penumpang yang tengah berada dalam penerbangan antara Selandia Baru ke Jakarta. 

Pengalaman itu saya tulis dalam sebuah kisah pendek dan pernah saya turunkan pada tahun yang sama pada saat kejadian yaitu pada tahun 2009. Saya pikir mungkin ada baiknya saya turunkan kembali sebagai sebuah “True Story” yang mudah-mudahan ada manfaatnya bagi kita semua. Selamat membaca.

Lewat tengah malam tepat pukul 01.10 waktu setempat, saya on board pesawat B-777 dengan nomor penerbangan SQ 282 yang take off dari Jean Batten International Airport Auckland menuju Singapura.  

Semua berjalan lancar dan wajar saja dalam arti tidak ada keanehan sedikit pun sampai dengan pesawat menjelajah pada ketinggian 39.000 kaki atau 11.887 meter. Karena sedikit mengantuk, beberapa saat setelah take off itu saya pun sudah melonjorkan badan untuk segera tidur.

Sesudah terbang selama lebih kurang 7 jam, dan pesawat baru saja melintasi ujung utara pantai Benua Australia, terlihat seorang penumpang yang sangat gelisah dan mondar-mandir ke toilet. Ternyata, dia muntah-muntah dan kemudian juga buang air besar. Kembali ke kursinya, ia terlihat tetap gelisah dengan sebentar-sebentar berdiri untuk kemudian duduk kembali dengan wajah yang tidak tenang.  

Segera saja seorang awak kabin menghampirinya untuk coba membantu memperbaiki perasaan dan kondisi tubuhnya. Dia adalah seorang lelaki tengah baya yang sedang bepergian dengan isterinya, dari Auckland menuju ke Singapura dengan tujuan Frankfurt.  

Dari dua sampai tiga orang awak kabin yang berkomunikasi dengannya, terlihat ada kesulitan yang disebabkan yang bersangkutan hanya bisa berbahasa Jerman.

Tidak lama berselang, awak kabin mengumumkan kepada seluruh penumpang, apabila ada yang bisa berbahasa Jerman untuk dapat membantu awak kabin dalam menangani seorang penumpang yang tengah menghadapi masalah.  

Karena kemudian diperoleh penjelasan bahwa sang penumpang merasakan tidak enak di sekujur tubuhnya, serta merasa nyeri di bagian dada kiri dan leher serasa tercekik dengan disertai muntah-muntah, maka awak kabin sekali lagi mengumumkan kepada seluruh penumpang apakah ada yang berprofesi sebagai dokter untuk dapat membantu penumpang yang sakit ini.

Tidak berapa lama, datang seorang dokter dan seorang perawat. Dokter ini sepertinya orang Timur Tengah, sementara perawat yang datang adalah perempuan berkulit putih berkebangsaan Selandia Baru.  

Sang dokter, dibantu oleh penerjemah bahasa Jerman, seorang berkebangsaan Indonesia, perawat Selandia Baru, serta tiga awak kabin, langsung saja menjadi satu tim yang mencoba menangani penumpang yang sakit tersebut.  

Rupanya, para awak kabin SQ benar-benar sangat cekatan dalam menangani masalah seperti ini.  Sang awak kabin langsung menerangkan kepada dokter tersebut bahwa mereka mempunyai prosedur tetap yang harus dilakukan, yaitu segera menghubungi ground staff SQ medical center yang terdiri dari tim SOS, yang akan segera memberikan bantuan. 

Sepertinya, mereka sangat well trained, terlihat kemudian salah seorang di antaranya langsung berhubungan dengan telepon ke kantor pusat SQ yang kemudian tersambung dengan tim dokter ahli dari SOS yang merupakan mitra kerja tetap pihak SQ dalam menangani masalah kesehatan penumpang di udara.

Berikutnya terlihat, bagaimana sang dokter, yang kemungkinan hanya dokter biasa, bertindak dengan penuh percaya diri melakukan perintah-perintah yang datang via telepon yang dihubungkan oleh para awak SQ tadi.  

Sesekali terjadi dialog antara dokter di pesawat dengan tim dokter di bawah yang memberikan petunjuk-petunjuk tindakan yang harus diambil terhadap pasien. Di sisi lain, sang dokter pun melaporkan ke pihak SOS mengenai semua reaksi yang terjadi dari tindakan yang diambilnya.

Aktivitas ini dapat dengan mudah diikuti karena hubungan telepon di set dengan membunyikan speaker dari sambungan telepon tersebut.  

Demikianlah kegiatan dari “Long Distance On The Air Medical Treatment” berlangsung di dalam pesawat. Terlihat kemudian beberapa awak kabin lainnya membantu dengan mempersiapkan peralatan yang dibutuhkan oleh dokter dan perawat.  

Ternyata di dalam pesawat SQ sudah tersedia dua boks palang merah yang masing-masing terdiri dari “first aid kit” dan satunya lagi adalah “doctors emergency kit”.  

Peralatan terlihat sangat lengkap, dari jarum-jarum suntik dengan obat dalam ampul sampai dengan peralatan kompres serta alat infus tersedia dalam paket yang sudah siap pakai.  

Sang dokter pun dapat dengan nyaman dan cepat mengerjakan instruksi-instruksi yang diberikan karena peralatan yang lengkap serta keterampilan awak kabin dalam mempersiapkan alat-alat yang dibutuhkan.  

Saya baru sadar tentang gunanya sambungan telepon pesawat yang dibuat dalam mode “speaker”, sehingga perawat dan awak kabin dapat secara bersama dengan cepat mempersiapkan apa saja yang dibutuhkan berkait dengan instruksi tim SOS dari bawah. Dokter tinggal mengerjakannya saja dan kemudian melaporkan respons pasiennya.

Kerja sama yang kompak dan perhatian semua penumpang yang sangat membantu dalam proses pengobatan jarak jauh ini terlihat sangat mengharukan.  

Kita semua berhadapan dengan seorang yang kita tidak kenal yang tengah menghadapi sakaratul maut. Berbagai tindakan telah dilakukan, antara lain memberikan oksigen, beberapa obat dan juga kompres di dua tempat di tubuh sang pasien, tetapi kelihatannya tidak juga kunjung membaik.  

Dokter mencoba untuk menenangkan pasien agar tidak panik, dan akhirnya si pasien mengatakan bahwa dirinya sudah tidak tahan lagi menahan sakit.

Segera dokter melaporkan ke SOS di bawah, yang kemudian berhubungan dengan captain pilot memberikan instruksi untuk segera mendarat di tempat yang terdekat, untuk menyelamatkan jiwa pasien.  

Pilot pun lalu menghubungi Denpasar, Bali, untuk minta izin landing di Bandara Ngurah Rai, di luar rencana penerbangan sebagai akibat dari “serious illness on board” dan “request special medical care on arrival”.  

Pilot dengan tenang mengumumkan terlebih dahulu kepada seluruh penumpang bahwa untuk menyelamatkan seorang penumpang yang diperkirakan mengalami serangan jantung, maka pesawat di luar jadwal harus mendarat sejenak di Bandara Ngurah Rai, Bali.  

Pesawat turun meninggalkan ketinggian 11.887 meter menuju Bali. Tepat pukul 03.40 WIT, pesawat mendarat dengan mulus di Bali.

Tidak lama kemudian ternyata tim dari SQ dan SOS sudah siap di Bandara, tetapi penanganan pertama di apron, menurunkan pasien dari pesawat, sesuai aturan harus ditangani oleh otoritas bandara terlebih dahulu.  

Dari penjelasan petugas yang saya tanyakan langsung, diketahui bahwa saat itu di Bandara Ngurah Rai tidak ada dokter yang stand by.  

Sang petugas mengatakan, seharusnya di karantina bandara selalu ada dokter siaga 24 jam, tetapi kali ini mungkin karena hari Minggu, dan jam menunjukkan baru pukul 03.40, jadi tidak ada dokter yang siap.

Drama berikutnya adalah, begitu pesawat parkir dan pintu dibuka, sang pasien langsung saja tergeletak kaku dan kemudian terdengar seperti ngorok sampai tiga kali.  

Namun, sang dokter dengan tidak kalah sigap langsung saja mengerjakan pernapasan buatan/bantuan dengan alat yang tersedia di pesawat. Menekan-nekan dada pasien yang sempat terhenti detak jantungnya sejenak, tetapi kemudian terlihat dapat bernapas kembali.  

Segera setelah itu, pasien pun dibopong untuk turun dari pesawat menuju ambulans, ditemani istrinya, menuju BIMC (Bali International Medical Centre) yang jaraknya lebih kurang 6 sampai 7 km dari Bandara Ngurah Rai.  

Dokter tersebut ternyata telah cukup berpengalaman dalam membantu pasien yang mengalami serangan jantung.

Atas kebesaran Tuhan, satu unjuk kerja yang sangat profesional diperlihatkan oleh para awak SQ, mulai dari penerbang, purser, serta seluruh awak kabin, dan juga partisipasi penumpang yang terdiri dari penerjemah bahasa Jerman, dokter dan perawat, serta juga pengertian yang mendalam dari para penumpang lainnya, telah berhasil menyelamatkan nyawa seorang penumpang berkebangsaan Jerman yang mengalami heart attack dalam perjalanan pulang ke Frankfurt.

Demikianlah drama penyelamatan nyawa dari ketinggian 11.887 meter, yang terjadi di atas perairan utara Australia, pada saat fajar menyingsing di tanggal 29 Maret 2009.

Jakarta, 17 Oktober 2016

Sumber:

http://nasional.kompas.com/read/2016/10/17/18144961/drama.penyelamatan.nyawa.di.ketinggian.11.887.meter

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *